Minggu, 27 Mei 2018

Monitor dan Evaluasi dalam Community Based Tourism

Monitoring dan Evaluasi dalam Community Based Tourism 


Monitoring dan Evaluasi (MonEv) dalam kegiatan di suatu desa wisata cukup pentingdiantaranya untuk mengkaji apakah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan telah sesuai dengan rencana, mengidentifikasi masalah yang timbul agar langsung dapat diatasi, melakukan penilaian apakah pola kerja dan manajemen yang digunakan sudah tepat untuk mencapai tujuan proyek, dan lain-lain. Berikut contoh penerapan Monitoring dan Evaluasi  dalam Community Based Tourism (CBT) : 


NO
OBJECTIVE
INDICATOR
TOOLS
RESULT
1.
Keterlibatan masyarakat
-Masyarakat berpartisipasi dalam setiap musyawarah
-Masyarakat berpartisipasi dalam setiap kegiatan pariwisata
-Masyarakat memberikan saran/pendapat ketika mengadakan musyawarah/evaluasi
-Seluruh masyarakat lokal terlibat dalam setiap keputusan bersama di desa wisata
-Tidak ada masyarakat lokal yang jobless
Observasi dan wawancara
-Apakah Anda selalu terlibat dalam setiap keputusan mengenai pengembangan desa wisata?
-Menurut Anda berapa presentasi masyarakat yang aktif saat musyawarah diadakan?
-Apakah setiap masyarakat lokal memiliki tugas dan tanggung jawab terkait pengembangan desa wisata?
    

2.
Kesejahteraan masyarakat
-Dampak pariwisata yang dirasakan masyarakat, khususnya masalah sosial (mengurangi pengangguran)
-Meningkatnya perekonomian masyarakat
-Menurut Anda, apakah ada dampak positif yang bisa dirasakan setelah Anda memiliki pekerjaan akibat dari kegiatan pariwisata disini?
-Apakah ada perubahan sebelum-sesudah adanya  desa wisata disini terkait penghasilan Anda? Berapa penghasilan Anda sekarang?

3.
Kerjasama antar-masyarakat
-Komunikasi antar-masyarakat
-Bekerjasama dalam mengatur strategi kegiatan pariwisata
-tingkat efektifitas kerjasana antar-masyarakat
-Mengelola dana desa wisata secara bersama dan transaparan
-Strategi apa yang masyarakat lokal lakukan demi kemajuan desa wisata ini?
-Bagaimana peran pengurus serta masyarakat lokal lainnya ketika masalah timbul dalam desa wisata ini?
-Digunakan untuk apa saja dana hasil dari kegiatan di desa wisata ini?
-Apakah pernah terjadi perselisihan antar-masyarakat di desa wisata ini?

4.
Masyarakat yang mandiri
-Memiliki pekerjaan dari sektor pariwisata
-Dapat menghidupi diri sendiri dan keluarga dengan kegiatan pariwisata
-Mampu memenuhi kebutuhan primer, sekunder atau tersier dari kegiatan pariwisata
-Apa yang Anda rasakan setelah adanya desa wisata ini?
-Apakah Anda merasa lebih percaya diri setelah menghasilkan pundi-pundi rezeki dari kegiatan pariwisata ini?
-Apakah Anda sudah mampu memenuhi target/keinginan setelah adanya desa wisata ini?

Rabu, 14 Maret 2018

Manajemen Desa Wisata VII : Pentingnya Lembaga dalam suatu Desa Wisata

Lembaga dalam suatu Desa Wisata

            Faktor pendukung dalam pengembangan dan kemajuan suatu desa wisata, salah satunya ialah adanya suatu lembaga/organisasi yang terjun secara penuh untuk saling bekerjasama dan berkoordinasi satu dengan yang lainnya. Dalam lembaga tersebut perlu melibatkan seluruh masyarakat lokal, baik anak-anak, remaja maupun orang tua dari segala latar belakang. Selain mengandalkan peran dari masyarakat lokal, kelembagaan tersebut dapat dibantu oleh pemerintah, akademisi, dan semacamnya sebagai wadah mengedukasi masyarakat lokal untuk menjadikan desa wisata tersebut memiliki kualitas yang tinggi. Sebesar apapun dan sebagus apapun potensi yang akan menjadi komoditas unggulan di suatu desa wisata, jika tidak ada suatu lembaga atau bahkan terbentuk suatu lembaga yang hanya sebagai formalitas, maka bisa dipastikan kegiatan pariwisata itu tidak akan lama, karena pariwisata dengan segala karakteristiknya tetap diperlukan pengelolaan yang profesional dan inovatif.  
Setelah melakukan diskusi kemarin, kelompok kami menyepakati bahwa dalam suatu desa wisata harus terdapat susunan lembaga yang jelas dan terstruktur, sehingga masyarakat lokal pun dapat bekerja sebaik mungkin sesuai dengan tugas dan kewajibannya masing-masing yang telah disepakati. Berikut contoh susunan lembaga yang baik di suatu desa wisata :
1.      Ketua Umum
2.      Wakil Ketua
3.      Bendahara I dan Bendahara II
4.      Sekertaris I dan Sekertaris II
5.      Sie Pemasaran
6.      Sie Home Industry
7.      Sie Seni dan Budaya
8.      Sie Keamanan dan Kebersihan
9.      Sie Homestay
10.  Sie Konsumsi
Di Yogyakarta, dapat kita lihat contoh dari desa wisata yang sangat baik dalam hal lembaga ialah Desa Wisata Kembang Arum. Di desa wisata ini dapat kita lihat adanya struktur lembaga yang sudah jelas sesuai dengan kebutuhan desa wisata tersebut. Masyarakat lokal begitu antusias dan saling bekeja sama antar-anggota dalam hal pembangunan desa wisata tersebut. Anggota lembaga (masyarakat lokal) tersebut sudah dibimbing dan diedukasi mengenai pembagian tugas dan tanggung jawab. Bahkan, di desa tersebut dalam beberapa pekan sekali melakukan evaluasi untuk pembenahan sistem pelayanan, menampung keluhan wisatawan dan merencanakan inovasi untuk semakin menjadikan desa wisata tersebut lebih baik. Sehingga dengan adanya kelembagaan yang baik di desa wisata tersebut, tentu wisatawan akan merasakan kepuasan ketika berkunjung dan kesejahteraan m,asyarakat lokal pun semakin bertambah.
Namun, hal berbeda terjadi pada Desa Wisata Kauman. Di desa wisata ini memang terdapat suatu lembaga yang mengelola desa wisata tersebut, namun tidak begitu difungsikan atau sebagai formalitas saja. Ketika beberapa pekan lalu, seorang teman saya mengunjungi desa wisata tersebut, terdapat masyarakat lokal yang tidak mengetahui sedikitpun mengenai lembaga yang ada di desa tersebut dan peran belaiu sebagai masyarakat lokal daerah tersebut. Selain tidak melibatkan seluruh masyarakat lokal, desa wisata tersebut kurang menggunakan lembaga tersebt untuk update terhadap perkembangan desa wisata lainnya, sehingga tidak ada inovasi dari para anggota untuk diterapkan dalam pengembangan desa wisata tersebut. Maka tidak heran, apabila desa wisata ini dinilai kurang berkembang dibanding Desa Wisata Kembangarum.


Senin, 12 Maret 2018

Manajemen Desa Wisata VI : Desa Wisata Ngringinan



Desa Wisata Ganjuran, Bantul, DIY





            Beberapa hari yang lalu saya bersama teman-teman seangkatan D3 Kepariwisataan Universitas Gadjah Mada berkunjung ke salah satu desa wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Mungkin, nama desa wisata ini masih terdengar asing di telinga sebagian masyarakat luar, karena desa wisata ini masih tergolong desa wisata berkembang, sehingga tugas kita sebagai wisatawan yang baik dan warga Indonesia yang mencintai kekayaan budayanya perlu membantu dalam mempromosikan maupun mendukung segala aktifitas yang dapat mengembangkan desa wisata ini. Meski begitu, bukan berarti desa wisata ini kalah atau buruk dari desa wisata lainnya, namun Desa Wisata Ngringinan ini cukup memiliki keunikan tersendiri di mata masyarakat lokal dan wisatawan, kita bisa menjelajahi Bantul dari sisi yang berbeda. Ketika kita disana, kita akan disambut oleh penduduk lokal yang ramah dan bersahaja. Suasana pedesaan dan kegiatan masyarakat yang hidup dalam kesederhanaan membuat  saya cukup nyaman untuk menikmatinya. Saat itu saya juga diajak untuk menelusuri jejak Bantul di masa penjajahan Belanda, yakni Museum Bantul Masa Belanda yang  menyimpan banyak benda, foto, dan film dokumenter tentang beberapa peninggalan Belanda di akhir tahun 1800-an dan di awal tahun 1900-an di Bantul dan sekitarnya. Museum ini cukup sederhana, yang terdiri dari beberapa ruangan, namun cukup dapat menggambarkan suasana Bantul pada zaman itu.
Selain itu, saya juga mengunjungi tempat iconic yang terdapat di desa wisata ini, yakni Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran, yang letaknya tidak jauh dari museum tersebut dibangun. Gereja ini mulai dibangun pada tahun 1924 atas prakarsa dua bersaudara keturunan Belanda, Joseph Smutzer dan Julius Smutzer. Bangunan ini dirancang dengan perpaduan gaya Eropa, Hindu dan Jawa. Gaya Eropa dapat ditemui pada bentuk bangunan berupa salib, sementara gaya Jawa bisa dilihat pada atap yang berbentuk tajug, bisa digunakan sebagai atap tempat ibadah. Atap itu disokong oleh empat tiang kayu jati, melambangkan empat penulis Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Nuansa Jawa juga terlihat pada altar, sancristi (tempat menyimpan peralatan misa), doopvont (wadah air untuk baptis) dan chatevummenen (tempat katekis). Patung Yesus dan Bunda Maria yang tengah menggendong putranya juga digambarkan tengah memakai pakaian Jawa. Demikian pula relief-relief pada tiap pemberhentian jalan salib, Yesus digambarkan memiliki rambut mirip seorang pendeta Hindu.
Gereja ini menawarkan sentuhan rasa yang berbeda dari gereja pada umumnya.  Kita akan disuguh dengan bangunan candi yang dinamai Candi Hati Kudus Yesus dengan teras berhias relief bunga teratai dan patung Kristus dengan pakaian Jawa. Saya pun banyak menemui banyak orang yang melaksanakan ibadah/ziarah di candi ini dengan khidmat. Pertama, peziarah bisa menuju tempat pengambilan air suci yang berada di sebelah kiri candi. Setelah mengambil air suci, anda bisa duduk bersimpuh di depan candi dan memanjatkan doa permohonan. Prosesi ibadah diakhiri dengan masuk ke dalam candi dan memanjatkan doa di depan patung Kristus. Beberapa peziarah sering mengambil air suci dan memasukkannya dalam botol, kemudian membawa pulang air itu setelah didoakan.
Tidak hanya menawarkan atraksi wisata berupa bangunan, Desa Wisata Ngringinan cukup terkenal dengan pembuatan makanan tradisional, yakni madumongso. Ketika di Desa Wisata Ngringinan, salah satu pengelola desa wisata ini menunjukkan beberapa madumongso yang dapat kita beli. Apabila berminat, wisatawan pun dapat mengikuti dan membantu dalam proses pembuatannya bersama masyarakat lokal. Cita rasa dari madumongso khas Desa Wisata Ngringinan ini cukup legit dan berbeda dari madumongso lainnya, khususnya madumongso dari Jawa Timur. Menurut keterangan dari beberapa pengelola desa wisata ini, Desa Wisata Ngringinan juga banyak didatangi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara, salah satunya UNIDA Gontor. Sebenarnya, di desa wisata ini kita tidak hanya melihat dan merasakan hal yang sudah saya paprkan saja, namun banyak hal lainnya yang dapat kita nikmati di tempat ini. Misalnya, wisatawan dapat menikmati suasana dan berinteraksi dengan masyarakat lokal di desa wisata ini lebih lama dapat menginap di homestay-homestay yang disediakan oleh masyarakat lokal. Selain itu, sensasi membajak sawah, membuat patung kayu, dan sebagainya. Namun, karena waktu saya kemarin cukup terbatas, jadi hanya itu saja yang bisa saya ceritakan J

Selasa, 06 Maret 2018

Kesenian Indonesia : Tokoh Wayang Arjuna


 

Arjuna adalah nama seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia memiliki nama kecil Permadi, anak bungsu dari Prabu Pandudewanata, raja di Hastinapura dengan Dewi Kunti atau Dewi Prita, yaitu puteri Prabu Surasena, Raja Wangsa Yadawa di Mandura. Arjuna merupakan teman dekat Kresna, yaitu awatara (penjelmaan) Bhatara Wisnu yang turun ke dunia demi menyelamatkan dunia dari kejahatan. Arjuna juga merupakan salah orang yang sempat menyaksikan “wujud semesta” Kresna menjelang Bharatayuddha berlangsung. Ia juga menerima Bhagawadgita atau “Nyanyian Orang Suci”, yaitu wejangan suci yang disampaikan oleh Kresna kepadanya sesaat sebelum Bharatayuddha berlangsung karena Arjuna masih segan untuk menunaikan kewajibannya.
Arjuna memiliki karakter yang mulia, berjiwa kesatria, imannya kuat, tahan terhadap godaan duniawi, gagah berani, dan selalu berhasil merebut kejayaan sehingga diberi julukan “Dananjaya”. Musuh seperti apapun pasti akan ditaklukkannya, sehingga ia juga diberi julukan “Parantapa”, yang berarti penakluk musuh. Di antara semua keturunan Kuru di dalam silsilah Dinasti Kuru, ia dijuluki “Kurunandana”, yang artinya putera kesayangan Kuru. Ia juga memiliki nama lain “Kuruprāwira”, yang berarti “kesatria Dinasti Kuru yang terbaik”, sedangkan arti harfiahnya adalah “Perwira Kuru”. Diantara para Pandawa, Arjuna merupakan kesatria pertapa yang paling teguh. Pertapaannya sangat kusuk. Ketika ia mengheningkan cipta, menyatukan dan memusatkan pikirannya kepada Tuhan, segala gangguan dan godaan duniawi tak akan bisa menggoyahkan hati dan pikirannya. Maka dari itu, Sri Kresna sangat kagum padanya, karena ia merupakan kawan yang sangat dicintai Kresna sekaligus pemuja Tuhan yang sangat tulus. Sri Kresna pernah berkata padanya, “Pusatkan pikiranmu pada-Ku, berbaktilah kepada-Ku, dan serahkanlah dirimu pada-Ku, maka kau akan datang kepada-Ku. Aku berkata demikian, karena kaulah kawan-Ku yang sangat Kucintai”.
Arjuna dididik bersama dengan saudara-saudaranya yang lain (para Pandawa dan Korawa) oleh Bagawan Drona. Kemahirannya dalam ilmu memanah sudah tampak semenjak kecil. Pada usia muda ia sudah mendapat gelar “Maharathi” atau “kesatria terkemuka”. Ketika Guru Drona meletakkan burung kayu pada pohon, ia menyuruh muridnya satu-persatu untuk membidik burung tersebut, kemudian ia menanyakan kepada muridnya apa saja yang sudah mereka lihat. Banyak muridnya yang menjawab bahwa mereka melihat pohon, cabang, ranting, dan segala sesuatu yang dekat dengan burung tersebut, termasuk burung itu sendiri. Ketika tiba giliran Arjuna untuk membidik, Guru Drona menanyakan apa yang ia lihat. Arjuna menjawab bahwa ia hanya melihat burung saja, tidak melihat benda yang lainnya. Hal itu membuat Guru Drona kagum bahwa Arjuna sudah pintar.
Arjuna memiliki sifat cerdik dan pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah. Ia memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bharatayuddha, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia moksa (mati sempurna) bersama keempat saudaranya yang lain di gunung Himalaya. Ia adalah petarung tanpa tanding di medan laga, meski bertubuh ramping berparas rupawan sebagaimana seorang dara, berhati lembut meski berkemauan baja, kesatria dengan segudang istri dan kekasih meski mampu melakukan tapa yang paling berat, seorang kesatria dengan kesetiaan terhadap keluarga yang mendalam tapi kemudian mampu memaksa dirinya sendiri untuk membunuh saudara tirinya. Bagi generasi tua Jawa, dia adalah perwujudan lelaki seutuhnya. Sangat berbeda dengan Yudistira, dia sangat menikmati hidup di dunia. Petualangan cintanya senantiasa memukau orang Jawa, tetapi secara aneh dia sepenuhnya berbeda dengan Don Juan yang selalu mengejar wanita. Konon Arjuna begitu halus dan tampan sosoknya sehingga para puteri begitu, juga para dayang, akan segera menawarkan diri mereka. Merekalah yang mendapat kehormatan, bukan Arjuna. Ia sangat berbeda dengan Wrekudara. Dia menampilkan keanggunan tubuh dan kelembutan hati yang begitu dihargai oleh orang Jawa berbagai generasi.
Sebagaimana yang sudah saya jelaskan di atas, saya merasa memiliki beberapa kesamaan karakter dan sifat dari tokoh wayang yang menjadi favorit penikmati seni wayang ini. Sosok Arjuna yang lemah lembut, rasanya cukup tertanam dalam diri saya. Tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa saya kalem, padahal saya merupakan seorang anak yang lahir di Jawa Timur, dimana masyarakatnuya terkenal keras. Meskipun terkadang saya suka marah dan ngedumel, bahkan hingga menyebabkan pertengkaran dahsyat, saya pun menyesal dan justru menanangisi sikap saya tersebut. Saya juga tidak tega untuk berkata kasar kepada seseorang atau mempermalukan seseorang, meskipun orang tersebut memang bersalah. Sama halnya ketika melihat orang lain kesakitan, merasa sedih, saya akan memberikan motivasi agar moodnya kembali membaik atau semangat hidupnya kembali bergairah, tidak berbeda jauh dengan yang dilakukan Arjuna yakni mengasihi orang yang lemah pada masanya. Saya juga cukup cerdas dan teliti ketika melakukan sesuatu karena saya akan merasa puas ketika menghasilkan sesuatu yang maksimal sesuai dengan harapan saya. Selain itu, karena saya wanita Jawa, sudah tentu pasti saya dibekali ilmu kejawen, seperti hal tata krama atau sopan santun kepada orang lain, misalnya saya suka berbicara Krama Alus kepada orang yang lebih tua, ketika bertamu di rumah seseorang dan dijamu dengan makanan, setidaknya saya mencicipi dan setelah habis, saya membawanya ke dapur untuk saya cuci, dan sebagainya. Tokoh wayang Arjuna ini memang memiliki aura yang positif, sehingga sangat patut untuk dicontoh bagi semua kalangan dan generasi.






Sumber :


Sabtu, 24 Februari 2018

Manajemen Desa Wisata V : Impact of Rural Tourism and Recreation

Impact of Rural Tourism and Recreation

Sektor pariwisata merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan daerah. Usaha memperbesar pendapatan asli daerah, maka program pengembangan dan pemanfaatan sumber daya dan potensi pariwisata daerah diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pembangunan ekonomi. Pariwisata dipandang sebagai kegiatan yang mempunyai multidimensi dari rangkaian suatu proses pembangunan. Pembangunan sektor pariwisata menyangkut aspek sosial budaya, ekonomi dan politik . Proses pembangunan pariwisata di pedesaan menimbulkan dampak baik positif maupun negatif, baik dari segi sosial, budaya dan sebagainya.
Beberapa contoh dampak positif yang dapat dirasakan oleh masyarakat desa dan wisatawan, diantaranya :
-Segi sosial dan ekonomi
1. Menyediakan sumber penghasilan baru, alternative atau tambahan pendapatan dan pekerjaan. Apabila industri pariwisata dikembangkan dalam suatu desa, tentu akan ada lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat setempat, misalnya dengan menjadi tukang parkir, ticketing, penjual makanan, dan masih banyak lagi lainnya. Sehingga dari aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat, pendapatan mereka dan kesejahteraan sosial - ekonomi desa tersebut meningkat. Mereka dapat berkontribusi secara maksimal dan menyalurkan inovasi mereka, sehingga tidak hanya memberikan peluang kemajuan bagi sosial dan ekonomi masyarakat, namun hal tersebut juga dapat membantu meningkatkan kualitas desa wisata tersebut, terlebih bila masyarakat dapat berkoordinasi secara baik satu dengan yang lainnya.
2. Membantu mengurangi gender dan ketidakseimbangan kekuatan sosial lainnya. Industri pariwisata merupakan salah satu sektor yang dapat merangkul seluruh gender dan komunitas dari latar belakang yang berbeda-beda, tidak hanya condong pada suatu kelompok atau ras tertentu, namun tetap mengacu pada standart yang telah ditetapkan.
3. Mendorong aktifitas masyarakat secara kolektif. Industri pariwisata merupakan salah satu indutri yang tidak hanya menawarkan barang, namun juga jasa, sehingga dalam pelaksanaannya tentu membutuhkan kerjasama satu dengan yang lain agar produk yang ditawarkan dapat memberikan kepuasan bagi wisatawan.
4. Memberikan kesempatan untuk mempertahankan populasi di daerah yang mungkin mengalami depopulasi. Maksud dari pernyataan tersebut misalnya terdapat suatu suku di desa tertentu dan memiliki keunikan, hal tersebut dapat dijadikan produk/paket wisata, yakni tinggal/merasakan hidup bersama bagi wisatawan, sehingga suku yang hamper mengalami depopulasi tersebut dapat bertahan dan semakin leboh berkembang.
5. Meningkatkan multiplier effect dalam suatu kegiatan. Berdasarkan pernyataan ini dapat dijelaskan bahwa industri pariwisata akan menggerakkan industri-industri lain sebagai pendukungnya. Komponen utama industri pariwisata adalah daya tarik wisata berupa destinasi dan atraksi wisata, perhotelan, restoran dan transportasi lokal. Sementara komponen pendukungnya, mencakup industri-industri dalam bidang transportasi, makanan dan minuman, perbankan, atau bahkan manufaktur. Semuanya dapat dipacu dari industri pariwisata.

-Budaya
1. Menghidupkan kembali budaya lokal. Dengan adanya industri pariwisata, potensi budaya di suatu daerah dapat dihadirkan dalam bentuk baru yang menjual. Selain untuk memberikan kepuasan kepada wisatawan ketika berkunjung, hal tersebut juga sebagai wadah bagi masyarakat untuk kembali mengenal budaya Indonesia dan menjadi pelaku budaya yang dapat melestarikannya.
2. Menanamkan rasa kebanggaan lokal, harga diri dan identitas diri. Seperti yang dijelaskan pada poin pertama, memiliki budaya lokal dapat membuat masyarakat setempat bangga bahwasannya daerah tersebut masih memiliki budaya unik yang menjadi incaran bagi wisatawan untuk menghibur diri/edukasi. Dari budaya tersebut juga dapat menjadi ciri khas bagi daerah tersebut, sehingga wisatawan semakin mudah untuk mengingatnya dan memberikan kesan tersendiri bagi wisatawan.

-Segi Fisik
1. Membantu perbaikan dan penggunaan kembali properti terbengkalai. Tentunya, dalam suatu daerah terkadang memiliki suatu potensi wisata namun masih belum dikembangkan, misalnya berupa properti. Dengan dibangunnya industry pariwisata dalam suatu daerah, tentu masyarakat setempat akan berusaha memanfaatkan potensi tersebut sebaik mungkin dan dimodifikasi agar menjadi produk wisata yang mengagumkan.
2. Kontribusi, konservasi dan perlindungan. Dengan dibangunnya industri pariwisata dalam suatu daerah tentunya akan diiringi oleh tindakan konservasi dan perlindungan untuk potensi-potensi wisata, misalnya perlindungan flora dan fauna

            Selain memberikan dampak positif, terdapat pula dampak negatif akibat adanya industri pariwisata di suatu desa, diantaranya :
-Segi Sosial-Ekonomi 
1. Kebocoran ekonomi. Dalam pembangunan pariwisata dapat diakibatkan dari adanya beberapa faktor . kebocoran yaitu kebocoran import dan kebocoran eksport dan kebocoran yang sifatnya tidak terlihat atau invisible leakage. Biasanya kebocoran importterjadi ketika terjadinya permintaan terhadap peralatan-peralatan yang berstandar internasional yang digunakan dalam industry pariwisata, bahan makanan dan minuman import yang tidak mampu disediakan oleh masyarakat lokal atau dalam negeri. Besarnya pendapatan dari sektor pariwisata juga diiringi oleh besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan import terhadap produk yang dianggap berstandar internasional. Sedangkan kebocoran eksport seringkali terjadi pada pembangunan destinasi wisata khususnya pada Negara miskin atau berkembang yang cenderung memerlukan modal dan investasi yang besar untuk membangun infrastruktur dan fasilitas wisata lainnya. Kondisi seperti ini, akan mengundang masuknya penanaman modal asing yang memiliki modal yang kuat untuk membangun resort atau hotel serta fasilitas dan infrastruktur pariwisata, sebagai imbalannya, keuntungan usaha dan investasi mereka akan mendorong uang mereka kembali ke Negara mereka tanpa bisa dihalangi.
2. Inflasi harga lokal. Peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa dari wisatawan akan menyebabkan meningkatnya harga secara beruntun “inflalsi” yang pastinya akan berdampak negative bagi masyarakat lokal yang dalam kenyataannya tidak mengalami peningkatan pendapatan secara proporsional artinya jikalau pendapatan masyarakat lokal meningkat namun tidak sebanding dengan peningkatan harga-harga akan menyebabkan daya beli masyarakat lokal menjadi rendah.
3. Migrasi tenaga kerja. Dengan berkembangnya destinasi wisata di suatu daerah mengakibatkan masyarakat luar juga ingin untuk berpindah menuju daerah tersebut dalam waktu sementara atau lekal dengan maksud bekerja. Bagi masyarakat luar, tentu hal tersebut merupakan peluang bagi mereka untuk membuka usaha di daerah tersebut untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal, sehingga pendapatannya pun dapat meningkat. Dari hal itu pula, struktur pekerjaan di daerah tersebut dapat berubah dengan tercampurnya para pekerja, baik dari masyarakat lokal maupun masyarakat luar.
4. Pola permintaan musiman. Suatu destinasi wisata tidak setiap saat ramai dikunjungi oleh wisatawan, terkadang hanya pada saat peak season (liburan). Di saat periode tersebut, pengelola dan masyarakat setempat merasakan dampak positif, yakni income yang maksimal, namun bila di low seasson, pengelola dan masyarakat akan merasakan penurunan income.

-Segi Budaya
1. Memproduksi atau mendistorsi budaya lokal untuk komodifikasi. Demi memenuhi kebutuhan wisatawan akan suatu atraksi, pengelola wisata harus menyediakan suatu budaya yang unik. Namun, keaslian dan unsur religiusitasnya hilang karena budaya tersebut tampil bukan secara alami. Misalnya tari A seharusnya ditampilkan saat acara pernikahan, namun tari tersebut harus ditampilkan saat wisatawan berkunjung di daerah tersebut. Maka dari hal tersebut tentu dapatt menghancurkan budaya asli daerah yang bersangkutan.

-Segi Fisik
1. Perusakan habitat. Demi menciptakan suatu destinasi wisata yang menarik, pengelola dan masyarakat setempat rela merusak suatu habitat tertentu. Misalnya untuk perluasan daerah outbound, suatu hutan dimana fauna tinggal harus dihancurkan.
2. Menimbulkan polusi dan kotoran dalam lingkungan. Dengan banyaknya kegiatan wisatawan yang dilakukan di destinasi wisata, membuat daerah tersebut mudah kotor. Apalagi saat peak season, cukup sulit mengawasi wisatawan untuk membuang sampah di tempatnya.
3. Menimbulkan kemacetan. Bila suatu destinasi wisata tersebut dan cukup terkenal, tentu akan banyak wisatawan yang berkinjung di daerah tersebut. Banyak dari mereka yang berkunjung secara berkelompok menggunakan kendaraan pribadi, sehingga menimbulkan kemacetan di daerah sekitar destinasi wisata tersebut, kegiatan masyarkat setempat pun harus sedikit terhambat karena hal itu, khsusunya di peak season.
           
            Dengan melihat banyaknya dampak positif dan negative dari industry pariwisata di suatu pedesaan, diperlukan langkah dan kebijakan pemerintah dengan didukung oleh masyarakat daerah wisata dengan mencari solusi untuk mengatasi dampak negatif adanya industri pariwisata, semakin memberikan kenyaman dan kemudahan dapat terus meningkatkan pengunjung baik dari dalam maupun luar negeri sehingga diharapkan Indonesia dengan kekayaan alamnya dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh warga negaranya untuk negaranya.